Memaparkan catatan dengan label zikir. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label zikir. Papar semua catatan

Sabtu, 5 Februari 2011

Selasa, 25 Januari 2011

Mengingati Allah, Bersyukur, dan MemujiNya

Kewajipan Mengingati Allah, Bersyukur, Bertasbih, Bertakbir dan MemujiNya

 

Mengingati Allah selalu akan menghilangkan rasa cemas, ragu-ragu dan tidak percaya diri. Mengingati Allah dapat melindungi hati dari kesesatan. Mengingati Allah merupakan ubat yang mujarab, makanan yang diberkati, ubat yang bermanfaat dan makanan yang baik.

Dengan mengingati Allah bererti mengesakanNya dari sekutu-sekutuNya, menjadikan orang-orang yang ditimpa musibah menjadi sabar, dan menyejukkan hati mereka yang gundah gulana. Mengingati Allah dapat memberikan ketenteraman pada saat-saat yang menggoncangkan dan pada saat-saat terjadinya fitnah. 
Allah telah menyuruh hamba-Nya agar selalu mengingati-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala telah mengkhabarkan segala makhluk telah bertasbih kepada-Nya dan mereka semua tunduk patuh kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." ( al-Israa', ayat 44)
"Lelaki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah."  (surah al-Ahzaab, ayat 35)
"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam Penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu ketika kamu bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).  ( at-Tuur, ayat 48-49)
Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam telah bersabda mengenai anjuran untuk mengingat dan bertasbih kepada Allah:
"Perumpamaan bagi orang yang mengingati Rabbnya dan orang-orang yang tidak mengingat adalah seperti orang hidup dan orang yang mati."  (sahih Bukhari wa Muslim)
"Perkataan Subhanallah, Walhamdulillah, Wa Lailaha illallah, Wallahu Akbar lebih aku sukai daripada terbitnya matahari."  (hadith riwayat Abu Hurairah)
Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam bersabda kepada salah seorang sahabatnya yang bermaksud:
"Mahukah kamu akau tunjukkan tentang perkataan yang berasal dari gudang syurga, iaitu kamu berkata: La haula wa laa quwwata illa billah."  (sahih Bukhari wa Muslim)
Orang yang suka mengingati Allah, dialah yang paling bahagia. Dialah yang paling banyak bertasbih, bertakbir, bertahmid dan bertahlil. Sesiapa yang menyibukkan diri dengan mengingati Allah maka Allah akan menjadikan hati orang tersebut hanya sibuk dengan ketaatan kepada-Nya. Dan sesiapa yang menyibukkan diri dengan perkara selain Allah maka Allah akan membuat orang tersebut menjadi sibuk dengan dirinya sendiri dan memenuhi hatinya dengan kesibukan serta mengekalkan kefakirannya dan menyia-nyiakan umurnya. Allah juga akan membuat orang tersebut kesukaran untuk mencapai apa yang diingininya dan Allah akan menutup pintu kebaikan dan pintu rahmat kepada orang tersebut.
Oleh kerana itu, sebaiknya kita selalu ingat kepada Allah. Ini disebabkan kerana Allah adalah pemilik nikmat, kebaikan dan keutamaan. Allah subhanahu wa ta`ala adalah Zat yang paling berhak untuk disembah, ditaati, diingati dan disyukuri. Allah Maha Agung dan Maha Tinggi.
petikan dari buku Al-`Azhamah: KEAGUNGAN - Kebesaran Ilahi Pada Tiap Sesuatu karangan Dr `Aidh Abdullah Al-Qarni

Sabtu, 19 Jun 2010

Malaikat dan Majlis Zikir

Malaikat Suka Duduk dalam Majlis Zikir

Dari Abu Hurairah ra berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: "Allah Tabaraka wa Taala mempunyai para malaikat yang ditugaskan mencari majlis zikir, sebaik saja mereka menjumpai majlis zikir, maka mereka akan duduk bersama orang-orang yang sedang berzikir serta memanggil malaikat-malaikat yang lain. Mereka akan datang berkerumun mengelilingi orang-orang yang sedang berzikir itu dengan sayap-sayap mereka sehingga memenuhi ruang antara mereka dengan langit dunia.

Apabila majlis berzikir itu tamat, maka para malaikat akan naik kembali ke langit. Lalu Allah SWT bertanya mereka: "Wahai para malaikatKu, dari manakah kamu semua?" Berkata para Malaikat: "Ya Rabb kami, kami baru saja pulang dari memeriksa hamba-hambaMu di bumi, mereka bertasbih, takbir, tahlil dan tahmid serta memohon kepadaMu." Sebenarnya Allah SWT lebih mengetahui tentang perbuatan mereka dan semua makhluk ciptaannya. Setelah Allah SWT mendengar kata-kata para malaikatNya, maka Allah SWT pun berfiman: "Wahai para malaikatku, apakah yang mereka minta kepadaKu?" Berkata para malaikat: "Hamba-hambamu itu memohon syurga dariMu." Allah SWT bertanya lagi: "Pemahkah mereka melihat akan syurga itu?" Berkata para malaikat lagi: "Mereka tidak pernah melihat syurga itu."

Berfiman Allah SWT: "Hamba-hambaKu memohon syurga padahal mereka tidak melihatnya dan apalagi kalau mereka melihat syurga itu." Berkata para malaikat: "Mereka juga memohon kebebasan." Allah SWT bertanya: "Mohon bebas dari apa?" Berkata para malaikat: "HambaMu itu memohon kepadaMu supaya mereka itu dibebaskan dari neraka jahanam." Allah SWT bertanya para malaikat lagi: "Pernahkah hamba-hambaKu melihatkan nerakaKu itu?" Berkata para malaikat: "Tidak ya Allah." Allah SWT berfirman: "Hamba-hambaKu itu tidak pemah melihat neraka jahanam, tapi mereka memohon supaya dibebaskan darinya, apalagi kalau mereka melihatnya."

Kemudian para malaikat berkata lagi: "Ya Allah, hambaMu itu memohon ampun kepadaMu," Allah SWT berfiman: "Dengarlah wahai para malaikatKu, Aku mengampuni mereka itu dan aku akan memberi apa yang mereka minta serta membebaskan mereka dari api neraka yang mereka takut itu." Berkata malaikat lagi: "Ya Allah, di antara mereka itu terdapat seorang hamba yang penuh dengan dosa, dia melalui majlis itu lalu duduk bersama mereka yang sedang berzikir. Allah SWT berkata: "Orang itu pun Ku ampuni, begitu juga dengan setiap orang yang terlibat dalam majlis zikir itu, tidak ada yang celaka."


Rabu, 28 April 2010

Zikir dalam shalat


Zikir dalam Shalat
Ditulis oleh pengembarajiwa di/pada November 23, 2008

Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Rabb (yang hak) selain Aku, maka mengabdilah hanya kepada Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS, Thaahaa : 14)
Jelas sekali firman Allah menerangkan kepada kita bahwa tujuan dari pada shalat adalah agar kita ingat akan Allah. Sehingga apabila seseorang mengerjakan shalat tetapi ingatannya tidak tertuju kepada Allah maka mereka tidak dikatakan orang yang mendirikan shalat, hanya sekedar memenuhi kewajiban untuk mengerjakan saja. Orang yang mendirikan shalat adalah orang yang bisa ingat akan Allah tatkala ia mengerjakannya maupun setelah selesai mengerjakannya. Dan kemudian ingatnya ia akan Allah membias pada dirinya dari buka mata sampai tutup mata. Sehingga kesehariannya selalu terpelihara dari perbuatan–perbuatan keji dan mungkar karena ia selalu ingat akan Allah. Begitu ia berniat akan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah kemudian ia ingat akan Allah lalu di batalkan niatnya untuk berbuat hal yang melanggar perintah Allah. Jadi penting sekali untuk bisa mengingat akan Allah, sebab Allah akan memelihara dan menjaga orang–orang yang selalu ingat akan Ia. Jalan untuk bisa mengingat akan Allah ia harus kenal dengan Allah. Bagaimana mungkin bisa ingat akan sesuatu kalau ia tidak kenal dengan sesuatu itu. Begitu pula halnya bagaimana mungkin bisa ingat akan Allah kalau ia tidak kenal dengan Allah. Dan untuk mengenal akan Allah terlebih dahulu harus mengenal dengan diri sendiri.

Sayyidina Ali Karamallahu wajhah pernah mengatakan : “Tidak sah Shalat seseorang melainkan terlebih dulu harus mengenal Allah”. Begitu ia ditanya apakah engkau mengenal / melihat akan Allah, maka di jawab oleh beliau : “Aku tidak mangabdi kepada yang tidak aku kenal / lihat”.
Karena itu Allah menjelaskan di dalam firman Nya :
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (QS, Al-Maa’uun : 4 – 5)

Kelalaian seseorang disebabkan ia tidak tahu jalan untuk mengingat akan Allah, karena itu banyak di antara orang–orang yang mengerjakan shalat tetapi akhlaknya buruk. Masih bisa melakukan kecurangan–kecurangan, membodohi orang lain, mengejek, mencela, memfitnah, membuka aib saudaranya, buruk sangka, sombong / membanggakan diri, riya / pamer dan lain sebagainya. Tentu tidak sesuai dengan yang di firmankan oleh Allah :
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS, Al – Ankabuut : 45)

Shalat seperti apakah yang dimaksudkan Allah? yaitu shalat yang di dalamnya di isi dengan zikir / ingat akan Allah yang sudah pasti mengenal akan Allah.
Bagi mereka yang selalu ingat akan Allah, maka akan ia dapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa. Hidupnya akan terarah kepada hal–hal yang positif, jika ia di landa kegelisahan ia bawa hatinya untuk berzikir / mengingat Allah maka hilanglah kegelisahan–kegelisahan yang berkecamuk di jiwanya. Allah ber Firman :
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS, Ar-Ra’d : 28)

Di ayat lain Allah SWT juga ber Firman :
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun”. (QS, Az-Zumar : 23)

Begitu pula zikir itu bisa membuat ia semakin dekat dengan Allah. Kalau sudah ia dapatkan kedekatan dengan Allah tentu di Akhirat Syurgalah tempatnya. Untuk itu sangat penting sekali bagi mereka yang ingin mencari ketenangan jiwa sebagai dasar kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak, untuk mengenal akan Rabbnya sehingga bisa ingat yang sebenar–benarnya kepada Allah. Bukan ingatan yang semu dan fatamorgana,bukan pula ingatan yang di ada–adakan. Tetapi benar–benar ingatan yang tidak pernah lupa lagi. Kemudian Allah berfirman lagi :
“Hai orang–orang yang ber Iman, ingatlah akan Allah dengan ingat yang sebanyak–banyaknya”. (QS, Al-Ahzab : 41)

Dengan memperbanyak ingat kepada Allah, membuat jiwa semakin mantap di dalam ketenangan. Sehingga ia dapatkan ketenangan jiwa yang langgeng terus menerus dan jiwa senantiasa menjadi terbiasa di dalam ingat akan Allah di setiap keadaan. Firman Allah :
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS, Ali Imran : 191)
Mereka itulah orang–orang yang mendirikan shalat dan yang diterima shalatnya oleh Allah SWT.

Selasa, 30 Mac 2010

Zikir Malaikat Sepanjang zaman


ZIKIR MALAIKAT SEPANJANG ZAMAN

Zikir adalah cahaya akal, kehidupan jiwa, dan penerang hati”

Dalam kitab tafsir Al-Khazin, Abdullah bin Abbas meriwayatkan hadis berikut, “Ketika Allah menciptakan ‘Arsy, Dia perintahkan kepada sejumlah malaikat untuk memikulnya. Kemudian, mereka merasakannya sebagai sebuah beban yang agak berat. Karena itu Allah berfirman kepada mereka, “Katakan Subhanallah.” Lalu, para malaikat mengucapkan kalimat itu, hingga ringanlah beban pikulan mereka. Sejak saat itu mereka mengucapkan kalimat > Subhanallah > tersebut sepanjang zamannya sampai kemudian Allah menciptakan Nabi Adama.s.

Ketika Allah ciptakan Adam, Adam tiba-tiba bersin. Allah mengilhamkan kepadanya agar mengucapkan Alhamdulillah, dan Adam pun mengucapkannya. Usai Adam mengucapkan kalimat tersebut, Allah kemudian menjawabnya dengan kalimat, “Yarhamukallah, semoga Allah menyayangimu. Dan, dengan rahmat serta kasih sayang sajalah maka aku menciptakanmu.” Para malaikat kemudian berkata, “Ini adalah kalimat yang sangat agung, karena itu ia tidak layak untuk dilalaikan.” Mereka pun kemudian menggabungkan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya, sehingga mereka membacanya menjadi ‘Subhanallah walhamdulillah’. Dan, dengan dua kalimat ini terasa lebih ringan bagi mereka memikul ‘Arsy. Kemudian dua kalimat ini mereka sebut-sebut dalam zikir mereka sampai Allah mengutus Nabi Nuh a.s.

Umat Nabi Nuh adalah umat pertama yang menyembah berhala dan menjadikannya sebagai tuhan. Kemudian, Allah mewahyukan kepada Nuh untuk menyampaikan kepada kaumnya kalimat ‘Laa > > ilaaha illallah, tiada tuhan selain Allah’. Nuh pun dengan penuh taat menyampaikan kalimat tersebut kepada kaumnya. Mendengar kalimat ini para malaikat merasa sangat berbahagia. Mereka kemudian menggabungkan kalimat terakhir ini dengan dua kalimat sebelumnya, sehingga mereka membaca sepanjang waktu kalimat-kalimat ‘Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah’ sampailah kemudian Allah mengutus Nabi Ibrahim a.s.

Ketika Allah mengutus Nabi Ibrahim dan memerintahkannya untuk berkorban dan menyembelih seekor domba sebagai ganti dari putranya Ismail, seketika itu dia berkata ‘Allahu akbar’ sebagai ungkapan rasa senang dan gembira. Para malaikat pun berkata, “Sungguh indah kalimat yang keempat ini.” Dan, mereka pun menggabungkan kalimat ini dengan tiga kalimat sebelumnya, sehingga mereka membaca sepanjang zaman kalimat-kalimat ‘Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallaahu akbar’.

Ketika riwayat ini disampaikan oleh malaikat Jibril a.s kepada Nabi Muhammad s.a.w., dengan nada takjub Nabi berkata ‘Laa haula walaa > quwwata > illaa > > billaahil ‘aliyyil ‘azhim. Mendengar kalimat tersebut kemudian malaikat Jibril menggabungkan kalimat terakhir ini dengan empat kalimat sebelumnya sehingga menjadi:

“Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallaahu > akbar > walaa > > haula walaa quwwata illaa billahi ‘aliyyil ‘azhim”