Memaparkan catatan dengan label hati. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label hati. Papar semua catatan

Selasa, 1 Jun 2010

Hati tak bahagia



Sebab-Sebab Hati Tidak Bahagia

Antara mazmummah utama yang menghilangkan bahagia di hati ialah :

1. Pemarah: Paling mudah dikesan atau dilihat dan paling banyak di dalam diri manusia. Orang seperti ini jarang mendapat kawan dan hati tentunya tidak tenang. Tatkala diri dalam kemarahan maka syaitan akan mula memainkan peranan dgn menghasut diri kita. Saat itu kalau kita tidak sabar maka akan mudah terpengaruh dengan hasutan syaitan.
 Cara untuk menghindar dari sifat ini :Saat kemarahan melanda, jika waktu itu kita tengah berdiri, maka cuba kita duduk tetapi kalau dgn cara duduk tak juga jalan, maka berbaringlah tapi kalau masih belum hilang, mandilah dan ambik wudlu, insyaAllah kalau selalu diamalkan, lama kelamaan sifat ini akan beransur hilang dari diri kita. Selamat mencuba.

2. Pendendam: Tersembunyi iaitu ibarat mengumpul lahar di dalam dada. Orang seperti ini senantiasa mencari-cari peluang untuk membalas dendam secara kecil-kecil sekalipun seperti sakitkan hati atau menempeleng orang yang didendami itu. Sebab itu orang pendendam mudah kena sakit jantung. Mengalah dan memberi maaf bukan berarti kita kalah. Itu berarti mengutamakan kebaikan dan kasih sayang Allah.

3. Dengki: Amalanya hangus akibat dengkinya.

4. Bakhil: Sentiasa merasakan orang lain menginginkan harta, kesenangan, pangkat dll. dari dirinya. Contohnya senantiasa berdalih mengatakan ia tiada duit. Allah lebih sayang orang yang fasiq tetapi pemurah tetapi benci orang yang abid tetapi bakhil. Karena walaupun fasiq, pemurahnya itu tetap memberi manfaat pada orang lain karena kadangkala rezeki itu Allah beri melalui makhluk.

5. Tamak: Orang yang tidak puas dengan yang sedikit niscaya tidak akan puas dengan yang banyak, karena dunia ini ibarat meminum air lautan walau berapa banyak yg diminum tetap tak abis juga... org tamak selalu rugi.. ** Ingat! Yang dikatakan harta atau rezeki kita bila ia dipakai atau digunakan oleh kita. Selagi tidak digunakan iaitu disimpan, itu belum boleh dikatakan rezeki kita. (mungkin ada hak orang lain di situ) Biarlah rezeki itu sedikit tetapi mendapat keberkatanyaitu dapat dimanfaatkan.

6. Tidak sabar: Andainya perkara yang kecil pun tidak boleh bersabar apatah lagi hal-hal yang lebih besar. Perbanyakkanlah bersabar kerana sabar itu sebahagian daripada iman.

7. Ego: Ibu segala mazmummah jadi ia membuatkan seseorang paling tidak tenang. Orang yang memiliki sifat ini pantang tercabar dari sudut zahir mahupun batin. (yg nie no komen).. pasal semua org ader egonya sendiri.. cuma tinggi/rendah tahap keegoan tersebut .

8. Riak: Tersiksa sendiri kerana senantiasa mencari-cari peluang untuk dipuji. Senantiasa bersandiwara di depan orang. Jika ia dipuji, ia akan menambah amalnya tetapi jika dikeji, ia akan mengurangkan amalnya. Allah marah kalau kita riak..takabbur dgn apa yg kita punyai.

9. Cinta dunia: Tak dapat menderita, dapat pun menderita kerana bila sudah dapat susah pula menjaganya. Berhartalah tidak mengapa tetapi kawal hati jangan diletakkan pada harta itu. Bila mati cuma bawa amalan dan doa anak yang soleh/solehah. Cinta dunia merupakan "neraka dunia" kerana dunia itu "panas" akibat ia merupakan barang buruan dan rebutan. Jadi letakkanlah Allah itu di hati,akhirat di tangan kanan dan dunia itu di tangan kiri supaya dunia itu senang dibagi-bagi dan akhirat dibawa mati. Kesimpulannya: Makin tinggi mazmummah seseorang, makin ia tidak BAHAGIA.Sampai bermujahadah atau biarkan saja mazmummah itu, kedua-duanya tetap menderita tetapi andainya bermujahadah kita akan dibantu Allah dan akan bahagia juga akhirnya.

hanya Allah yang tahu

Sabtu, 22 Mei 2010

Bermalam di dalam Baitullah


Bermalam di Dalam Baitullah
Ketika kita berbicara tentang Baitullah, tentu perhatian dan ingatan tertuju kepada Ka’bah yang ada di kota Makkah. Dan kesucian dari pada Ka’bah memang selalu terjaga dan terpelihara. Di mana Ka’bah itu adalah pusat pandang dari pada Kiblat orang-orang Muslim. Pada zaman Jahiliyah Ka’bah merupakan tempat untuk beribadah bagi para Kabilah-kabilah Khususnya di sekitar tanah Arab.
Dan di dalam Ka’bah itu di tempatkan patung-patung berhala sebagai sembahan Orang dikala itu. Ketika di tanyakan kepada mereka tentang Tuhan pencipta sekalian Alam mereka pun mengatakan percaya kepada yang menciptakan segala sesuatu. Adapun patung-patung yang mereka sembah itu hanyalah sebatas refleksi/perwujudan dari pada Tuhan Seru Sekalian Alam.
Ketika Rosulullah Saw di utus ke muka Bumi maka mulailah Rosul memberikan suatu pengarahan kepada mereka bahwa apa yang mereka sembah itu adalah suatu kesalahan yang sangat besar dan sangat fatal sekali.
Dikatakan oleh Beliau bahwa Tuhan Seru Sekalian Alam itu Laisa Kamislihi Syai’un (tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu apapun). Tuhan itu bernama ALLAH dan ALLAH itu ESA tidak ada sekutu bagi Nya, meliputi tiap-tiap segala sesuatu.
Lalu berjuanglah Beliau bersama para sahabat-sahabat untuk menghancurkan keyakinan dari pada orang-orang Kafir Quraisy terhadap sesembahannya yang berupa patung itu dan berusaha untuk menghancurkan patung-patung sesembahan mereka.
Kurang lebih 23 tahun lamanya Beliau berjuang dan pada saat Penaklukan Kota Makkah Beliau masuk ke dalam Ka’bah dan menghancurkan patung-patung berhala yang ada didalamnya.
Allah Swt berfirman : “Katakanlah : Akulah Allah yang Esa. Tempat bergantung segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada satupun yang menyamai ke Esaan Ku”.
Begitu jelasnya Allah menyatakan tentang ke Esaan Nya sehingga sesuatu apapun tidak ada yang menyamai Nya. Itulah yang menjadi dasar sehingga di dalam Baitullah itu tidak boleh ada patung dan berhala yang mengisinya.
Akan tetapi setiap Muslim berkeyakinan bahwa Ka’bah itu adalah Baitullah (Rumah Allah). Sehingga mereka yang semata-mata terfokus kepada Bangunan Batu yang di sebut dengan Ka’bah itu tidak menyadari bahwa Allah itu Maha Besar dan rasanya tidak pantas dikatakan bahwa Ka’bah yang terbuat dari batu dikatakan tempat kediaman Allah (Rumah Allah).
Allah Swt Maha Meliputi dan tidak terikat oleh ruang dan waktu bahkan Sayyidina Ali bin Abi Tholib pun pernah mengatakan bahwasanya : “Tdaklah aku memandang akan sesuatu melainkan aku melihat Tuhan di dalamnya”.
Adapun Ka’bah (Baitullah) itu hanyalah sebagai symbol daripada Persatuan Umat Islam, Poros dari pada persaudaraan sesama Muslim.
Pada Hakikatnya bukan Ka’bah yang dipandang, bukan Ka’bah yang dituju, bukan Ka’bah yang dipuja-puja melainkan Allah lah yang meliputi tiap segala sesuatu.
Pada Zahirnya menghadap mereka kepada Ka’bah adalah menunjukkan keta’atan ia kepada Tuhannya bukan menjadikan Ka’bah sebagai sesuatu yang Agung melainkan yang Maha Agung adalah yang memiliki Ka’bah tsb.
Para Sufi dan para Awliya menekankan tentang Baitullah itu sendiri lebih mengarahkan kepada Qolbu.
“Qolbun Mu’min Baitullah”
Agar Qolbunya mencerminkan Baitullah maka bersihkanlah terlebih dahulu qolbu itu dari segala patung-patung berhala. Patung-patung berhala didalam Qolbu itu ialah : Dunia, Harta, Takhta, Pangkat, Kedudukan.
Awliya Allah Al-Qutuburrobbani Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani mengtakan : Dunia boleh engkau ambil sebanyak-banyaknya, Harta dan uang boleh engkau kantongi sebanyak-banyaknya akan tetapi jangan sampai itu semua masuk kedalam Hatimu..!
Hatimu adalah Baitullah, maka cukuplah yang mengisinya hanya Allah Semata.
Mereka yang telah mengosongkan hatinya dari segala sesuatu….. Hanya Allah yang hadiri disitu…. Kemudian ia Tawajjuh kepada Allah dalam Hatinya maka pada Hakikatnya sama halnya ia telah bermalam di dalam Baitullah. Dan tidaklah bagi mereka yang telah bermalam di Baitullah, Allah akan Sayang dan Cinta kepada nya.

Ditulis oleh pengembarajiwa pada September 5, 2008