Memaparkan catatan dengan label Bulan Islam. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Bulan Islam. Papar semua catatan

Khamis, 30 Jun 2011

13, 14 dan 15 Sya'ban





Sya’ban adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan.
Kerana bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, kerana diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan. Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan.
Kerana letaknya yang mendekati bulan Ramadhan, bulan Sya’ban memiliki berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan. Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT kerana telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda,
ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم — حديث صحيح رواه أبو داود النسائي

”Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, kerana letaknya antara bulan Rejab dengan bulan Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Kerananya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rejab dan Ramadhan.
Kerananya, pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini, sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat  (pertolongan),  maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).
Dari sinilah umat Islam, berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan sedekah dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, sanak famili dan warga kerja mereka. Sehingga terciptalah tradisi saling mengirim bungkusan di antara umat Islam.
Kerana, di kalangan umat Islam Nusantara, bulan Sya’ban dinamakan sebagai bulan Ruwah, maka tradisi saling kirim l makanan ini dinamakan sebagai Ruwahan. Tradisi ini menyimbolkan persaudaraan dan mempererat ikatan silaturrahim kepada sesama Muslim.
  
Nisfu Sya’ban
Sya’ban adalah bulan kelapan dalam tahun Hijriyah. Keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nisfu Sya’ban. Secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban bererti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban.
Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.
Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Kerana pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.
Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, kerana pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang soleh.
Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban dalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
sumber : Syaifullah Amin
Pengurus Pusat Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU

Amalan di bulan Rejab

Amalan di Bulan Sya’ban

Saudara-saudara seiman !!!

Mari kita sambut bulan Ramadhan yang penuh berkah bermula pada  bulan Sya’ban ini. Kita persiapkan diri kita baik fizikal dan rohani untuk bulan yang penuh kurnia tersebut.

Mempersiapkan rohani kita adalah dengan mula  mempelajari hal-hal penting yang perlu kita amalkan selama bulan tersebut. Kita buka kembali pelajaran fiqhus-syiyam kita, iaitu  fekah berpuasa yang benar dan sesuai ajaran dan tuntutan islam. Kita sedarkan diri dengan kesedaran  akan  pentingnya bulan tersebut bagi agama dan keimanan kita.
Secara fizikal, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan melatih diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah satu hikmah kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban ini. Dan di bulan Sya’ban ini juga ada malam nisfu sya’ban, iaitu malam pertengahan bulan Sya’ban (Maghrib -16 Julai 2011). Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai amalam pada malam tersebut, namun malam itu boleh kita jadikan waktu pengingat kembali akan persiapan-persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh maghfirah. Berikut ini hadist-hadist berkenaan  keutamaan bulan Sya’ban semoga dapat kita baca dan amalkan:
Anjuran Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban
Dari Aisyah r.a. beliau berkata: ”Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban”. (h.r. Bukhari). Beliau juga bersabda: ”Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.
Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:’Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa  (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban? Rasulullah s.a.w. menjawab:”Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (h.r. Abu Dawud dan Nasa’i).


Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban
Dari A’isyah: “Suatu malam Rasulullah solat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai solat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.
Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan solat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rezki akan Aku beri dia rezki, orang-orang yang mendapatkan cubaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal (keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya’ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keuatamana dibandingkan dengan malam-malam lainnya.
  
Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban?
Adalah dengan memperbanyak ibadah dan solat malam dan dengan puasa. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan solat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka’bah.
Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, solat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan amal-amal salih lainnya. Wallahu a’lam
Sumber Pesantren Virtual : ubahsuai ejaan untuk pembaca di Malaysia

Khamis, 6 Januari 2011

Bulan Safar

Safar Bulan Sial?
Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Islam atau kalender Hijriah. Safar artinya kosong atau kuning. Dinamakan demikian kerana pada bulan kedua ini dahulu semua laki-laki bangsa Arab meninggalkan rumah, ada yang pergi perang, berniaga, atau mengembara sehingga rumah-rumah kosong ditinggal kaum laki-laki.
Dalam menghadapi kehadiran Safar, di kalangan umat Islam masih ada yang terpengaruh tradisi paganisme jahiliah yakni menganggap sial waktu-waktu tertentu. Termasuk menganggap bahwa Safar merupakan bulan sial, bulan nahas, bulan diturunkannya bencana, dan bulan yang harus diwaspadai kedatangannya. Masyarakat Arab jahiliah menganggap Safar sebagai bulan penuh kesialan (Shahih Bukhori No. 2380 dan Abu Dawud No. 3915). Sehingga pada bulan ini mereka dilarang mengadakan hajat atau pekerjaan-pekerjaan penting lainnya karena akan mendatangkan bencana atau kegagalan. Untuk menolak kesialan di bulan ini, mereka melakukan ritual tolak bala dengan cara memanjatkan doa dan mandi di pantai, sungai, atau tempat-tempat keramat tertentu.

Sikap dan perbuatan seperti itu tidak sesuai dengan ajaran Islam dan bertentangan dengan misi yang dibawa Nabi dan Rasul, yakni berdakwah kepada tauhid. Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

Sebagai seorang Muslim sudah selayaknya mengikis kepercayaan terhadap kesialan pada bulan Safar ini karena bertentangan dengan akidah dan tauhid. Orang yang menganggap Safar adalah bulan sial sama dengan mencela waktu. Rasulullah SAW. bersabda, "Beranggapan sial termasuk kesyirikan (beliau menyebutnya tiga kali)." Lalu beliau bersabda, "Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakal." (HR. Abu Dawud)

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullahu berkata dalam kitabZaadul Ma’aad (II/354-255), "Memaki masa (waktu) termasuk perbuatan syirik. Sebab, ia memaki masa karena anggapannya bahawa masa dapat memberi manfaat dan mudarat. Di samping anggapan bahwa masa itu zalim kerana telah merugikan orang yang tidak patut dirugikan, memberi orang yang tidak layak diberi, mengangkat darjat orang yang tidak layak diangkat darjatnya, menahan orang yang tidak patut ditahan haknya."

Selanjutnya beliau berkata, "Padahal, hakikatnya Allah yang menciptakan masa itu, Dialah yang memberi dan menahan yang mengangkat dan menurunkan yang memuliakan dan menghinakan, masa sama sekali tidak punya kuasa atas hal tersebut. Jadi, memaki masa sama halnya dengan mencaci Allah. Oleh karena itu, (dia) dianggap telah menyakiti Allah SWT dalam kitab ash-Shahihain, dari hadis Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW. bersabda, "Allah Ta’ala berfirman, ’Anak Adam telah menyakiti-Ku, ia memaki masa, padahal Aku-lah (yang menciptakan) masa’."

Sikap yang harus kita tumbuhkan dalam mengisi Safar ini, antara lain :
Pertama, meyakini bahwa Safar sama dengan bulan-bulan lainnya yang telah Allah SWT. jadikan sebagai kesempatan untuk melakukan amal-amal yang bermanfaat. Menganggap Safar sebagai bulan pembawa sial merupakan perbuatan haram dan syirik karena tidak ada yang mampu memberikan manfaat dan menimpakan mudarat kecuali Allah SWT., sebagaimana firmannya, 

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Yunus :107)
Kedua, bila musibah menimpa kepada diri kita di bulan ini, harus diyakini semua itu merupakan ketetapan Allah SWT. yang penuh dengan keadilan dan hikmah-Nya. Allah SWT. berfirman,

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
"Katakanlah, ’Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At-Taubah : 51)
Ketiga, jika kita membatalkan pekerjaan atau hajat pada bulan ini, alasannya bukan kerana Safar, melainkan karena alasan logik yang tidak bertentangan dengan nilai ketauhidan. Rasulullah SAW. bersabda, "Barangsiapa yang keperluannya tidak dilaksanakan disebabkan berbuat thiyarah, sungguh ia telah berbuat kesyirikan. Para sahabat bertanya, ’Bagaimanakah cara menghilangkan anggapan (thiyarah) seperti itu ?’ Beliau bersabda, ’Hendaklah engkau mengucapkan (doa), Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali itu datang dari Engkau, tidak ada kejelekan kecuali itu adalah ketetapan dari Engkau, dan tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau’." (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
Keempat, menumbuhkan sikap tawakal kepada Allah SWT. yang disertai usaha dan amal yang tidak bertentangan dengan syariat. Allah SWT. berfirman,

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. Huud : 123)
Kelima, meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. dengan melakukan berbagai ketaatan, baik dalam melaksanakan perintah-Nya maupun menjauhi larangannya. Dengan ketakwaan, akan menjadi sarana untuk mendapatkan kebahagiaan, keselamatan, dan mampu membedakan yang benar dan batil (furqan).

Akhirnya, marilah kita perkuatkan asas tauhid dengan ilmu dan amal dan bermohon kepada Allah SWT. agar membimbing dan melindungi diri kita dari perbuatan syirik yang akan merugikan  kita di dunia maupun akhirat.

Wallahu’alam bishawab.
Oleh H. MOCH. HISYAM, Ketua DKM Al-Hikmah RW 07 Sarijadi Bandung, anggota Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Kel. Sarijadi, Kec. Sukasari, Kota Bandung. 

Rabu, 10 November 2010

10 hari-hari Pertama

10 Hari-Hari Pertama Bulan Zulhijjah
Ramai dari kita yang telah maklum kelebihan 10 Malam-malam Terakhir Ramadhan. Tetapi adakah ramai dikalangan umat kita yang maklum kelebihan 10 Hari-hari Pertama dalam bulan Zulhijjah?
Imam al Bukhari Rahimahullah meriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas r.a bahawa Nabi s.a.w bersabda, Tiada suatu hari pun, amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada hari-hari ini – iaitu 10 hari Zulhijjah.
Para sahabat baginda bertanya, ‘Tidak juga Jihad pada jalan Allah (mengatasi kelebihan Hari-hari tersebut)? Ujar Baginda, Tidak juga Jihad di jalan Allah kecuali seorang yang keluar dengan jiwa raga dan hartanya dan tidak membawa pulang apa-apa pun (kerana habis disumbangkan untuk memenangkan agama Allah).
Imam Ahmad r.a. dari Ibnu Umar r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, “Tiada suatu haripun, amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada hari-hari 10 Zulhijjah ini, oleh kerana itu perbanyakkanlah padanya tahlil (La Ilaha Illa Allah), takbir (Allah Akbar) dan tahmid (Alhamdu Lillah).
Ibnu Hibban di dam kitab Sahihnya meriwayatkan dari Jabir r.a. bahawa baginda s.a.w bersabda, “Seutama-utama hari adalah hari Arafah”.

Amalan yang dianjurkan padanya (Bulan Zulhijjah)
1. Menunaikan ibadah haji dan umrah yang merupakan sebaik-baik amalan. Banyak hadis menyatakan kelebihan ibadah ini di antaranya : Sabda Nabi s.a.w.: “Satu umrah ke umrah yang lain menghapuskan (dosa) yang dilakukan di antara keduanya dan haji yang baik (diterima) tiada baginya balasan melainkan syurga”.
2. Berpuasa pada hari-hari tersebut atau sekadar kemampuannya – terutamanya pada hari Arafah. Tidak dinafikan bahawa puasa adalah di antara amalan yang terbaik dan ia adalah pilihan Allah seperti yang dinyatakan di dalam sebuah hadis qudsi, “Puasa itu adalah bagiKu dan Akulah yang membalasnya, dia meninggalkan keinginan nafsunya, makanan dan minumannya semata-mata keranaKu”. Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Qatadah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, Puasa pada hari Arafah, saya mengharap Allah akan menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang mendatang.
3. Takbir (Allahu Akbar) dan berzikir padanya, firman Allah s.w.t yang bermaksud, (Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang termaklum), hari-hari tersebut dijelaskan sebagai 10 hari di bulan Zulhijjah. Sebab itulah para ulama menyarankan supaya diperbanyakkan berzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana mafhum hadis Ibnu Umar r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di antaranya, “Oleh kerana itu perbanyakkanlah padanya tahlil (La Ilaha Illa Allah), takbir (Allah Akbar) dan tahmid (Alhamdulillah)”.
4. Bertaubat dan meninggalkan segala maksiat dan dosa, semoga dengan amalan baik dapat mencapai keampunan dan rahmat Allah. Ini kerana maksiat adalah punca kepada jauh dan terhindarnya seorang hamba dari rahmat Allah manakala ketaatan pula adalah punca dekat dan kasihnya Allah kepadanya.
5. Memperbanyakkan amalan soleh terutama amalan sunat tambahan seperti solat sunat, berjihad, membaca al-Quran, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan seumpamanya kerana semuanya akan digandakan pada hari-hari tersebut. Amalan yang dikerjakan ketika itu walaupun kecil tetapi ia lebih disukai oleh Allah dibandingkan pada hari-hari lain. Begitu juga amalan yang besar seperti berjihad di jalan Allah yang dikategorikan di antara amalan yang terbaik, tidaklah mendapat kehebatan pahala pada hari-hari itu melainkan apabila kuda (kenderaan) yang ditungganginya terbunuh (binasa) dan darahnya keluar (dia cedera atau mati syahid).
6. Disyariatkan bertakbir pada beberapa hari yang mulia itu pada waktu siang atau malam terutama selepas menunaikan fardu solat lima waktu yang dikerjakan secara berjemaah. Bagi mereka yang tidak menunaikan ibadah haji, takbir bermula dari waktu subuh hari Arafah (9 Zulhijjah) dan bagi yang menunaikannya takbir bermula pada waktu Zuhur hari raya haji (10 Zulhijjah), semuanya berakhir sehingga waktu Asar pada hari ke-13 Zulhijjah.
7. Disyariatkan amalan korban (menyembelih haiwan ternakan) pada hari raya haji dan hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Zulhijjah). Ia merupakan sunah Nabi Ibrahim a.s. setelah Allah s.w.t mengujinya dengan perintah menyembelih anaknya Ismail tetapi ditebus ujian itu dengan digantikan seekor haiwan untuk disembelih.
8. Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah r.a bahawa Nabi s.a.w bersabda, Apabila kamu telah melihat anak bulan Zulhijjah dan ada di kalangan kamu yang ingin berkorban (sembelih haiwan ternakan), hendaklah dia menahan dirinya dari (memotong) rambut dan kukunya, dan di dalam riwayat lain : “Maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya sehinggalah dia berkorban. Perintah (sunat) ini berkemungkinan ada persamaan dengan hukum bagi mereka yang membawa haiwan ternakan (ketika mengerjakan haji) dari kampung mereka yang telah dijelaskan oleh Allah, maksudnya, (Dan janganlah kamu mencukur rambut kamu sehinggalah haiwan ternakan (yang dibawa untuk dihadiahkan dagingnya kepada penduduk Mekah) itu sampai ke tempatnya). Larangan (memotong rambut dan kuku) ini pada zahirnya adalah khusus kepada tuan pemilik haiwan korban tersebut sahaja dan tidak termasuk isteri dan anak-anaknya melainkan mereka juga mempunyai haiwan seumpamanya, dan tidak mengapa jika yang berkenaan membasuh dan menggosok kepalanya kemudian terjatuh beberapa helai rambutnya.
9. Setiap muslim hendaklah berusaha menunaikan solat hari raya secara berjemaah, mendengar khutbah oleh imam selepas solat tersebut supaya mendapat pengajaran daripadanya. Sepatutnyalah kita mengetahui hikmat di sebalik perayaan ini. Ia merupakan hari menyatakan kesyukuran dengan melakukan kebaikan. Janganlah pula dilakukan padanya perkara yang mendatangkan kemurkaan Allah dengan mengerjakan maksiat, kesombongan, pertengkaran dan sebagainya yang boleh menjadi sebab kepada terhapusnya amalan kebaikan yang dikerjakannya sebelum itu.
10. Penuhilah hari-hari berkenaan dengan ketaatan kepada Allah, berzikir, bersyukur, menunaikan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya semoga mendapat rahmat dan keampunan-Nya.
Di sebalik bulan Zulhijjah yang terkenal dengan bulan haji, ia juga mencatatkan beberapa peristiwa di dalam diari sejarah pembinaan dan perjuangan umat Islam. Ia menjadi nadi dan titik-tolak kepada pengukuhan akidah dan pemantapan sahsiah serta kekuatan ukhwah ummat di dalam meneruskan perjuangan Baginda s.a.w.

Antara peristiwa peristiwa di bulan Zulhijjah  adalah:
1. Nabi Muhammad s.a.w membawa dagangan Khadijah ke negeri Syam, di sana baginda diberitahu tentang kenabiannya oleh pendita Nasthurah. Ia berlaku pada tahun kelima sebelum pelantikan baginda menjadi nabi.
2. Peristiwa Baiah Al-Aqabah (perjanjian setia Al Aqabah) pada tahun ke-13 selepas pelantikan baginda menjadi nabi. Ia disertai oleh 73 orang lelaki dan 2 orang perempuan dari kaum Aus dan Khazraj.
3. Peperangan As Sawiq pada tahun kedua Hijrah,Nabi s.a.w keluar mengekori kumpulan Abu Sya’ban yang menceroboh dan memerangi penduduk pinggir kota Madinah. Semasa melarikan diri mereka mencampakkan guni-guni gandum yang dibawa bagi mempercepatkan perjalanan supaya tidak dapat diekori oleh baginda.
4. Pada 7 Zulhijjah tahun kelima Hijrah satu kumpulan tentera Islam dihantar ke perkampungan Bani Sulaim yang diketuai oleh Ibnu Abi Al ‘Arjak.
5. Kelahiran Ibrahim putera Nabi s.a.w pada tahun kelapan Hijrah, ibunya bernama Mariyah Al Qibtiyah.
6. Pada tahun ke-10 Hijrah, Nabi s.a.w mengerjakan ibadah Haji yang dikenali dengan Hajjatul Wada’. Di sana baginda menyampaikan amanat-amanatnya yang kesemuanya adalah peraturan dan aturcara kehidupan di dalam Islam.
7. Abu Bakar As Siddiq mengerjakan ibadah Haji bersama umat Islam selepas kewafatan Nabi s.a.w pada tahun 12 Hijrah.
8. Peperangan Dathin yang dipimpin oleh Umamah Al Bahiliy menentang tentera Rom, berakhir dengan kemenangan tentera Islam.
9. Kemenangan tentera Islam yang diketuai oleh Yazid bin Abi Sya’ban menentang tentera Rom yang dikepalai oleh Sarjius di dalam pertempuran Wadi ‘Arabah di Palestin.
10. Pada tahun 23 Hijrah, Khalifah Umar Al Khattab meninggal dunia dibunuh oleh Abu Lu’luah Al Majusi.
11. Pelantikan Uthman bin ‘Affan sebagai khalifah yang dipilih sebulat suara oleh sebuah majlis Syura yang ditubuhkan oleh Umar Al Khattab sebelum kematiannya.
12. Pelantikan Ali bin Abi Talib sebagai khalifah menggantikan Uthman bin Affan pada tahun 35 Hijrah.
13. Kematian Yahya bin Aktham seorang ulama dan panglima tentera Islam pada tahun 242 Hijrah di Rabdah, sebuah kota di pinggir Madinah semasa berusia 82 tahun, pernah menjadi hakim kota Basrah, kadi besar dan penasihat kerajaan.
sumber: zhuliana.blogspot.com