Tuesday, August 31, 2010

Bahaya SYIRIK

Isi Kandungan Doa
Doa ini adalah berbentuk isti'adzah (memohon perlindungan). Biasanya dipanjatkan dari sesuatu yang ditakuti dan dibimbangi. Dalam hal ini adalah syirik. Karena syirik membawa kebinasaan di dunia dan di akhirat, di antaranya:
1.    Dosa syirik adalah dosa yang tidak terampun, jika pelakunya meninggal di atasnya. 
Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. Al Nisa': 48 dan 116)
2.    Syirik menghalang pelakunya dari surga dan menjadikannya kekal di dalam neraka.
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun." (QS. Al Maidah: 72)
Dari Ibnu Mas'ud radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ
"Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyembah selain Allah, pasti ia masuk ke dalam neraka." (HR. al Bukhari)

3.    Syirik menghapus pahala amal salih yang telah dikerjakan oleh pelakunya.
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al Zumar: 65)
Seseorang yang pahala amal-nya terhapus karena perbuatan syiriknya, maka Allah tidak memberikan balasan sedikitpun terhadap amal tersebut. Sebaliknya Allah akan mengazabnya karena kezaliman dan penghinaannya kepada Allah dengan kesyirikan yang dia lakukan.
Akibat buruk di atas layak dijatuhkan kepada seorang musyrik, kerana perbuatan syirik adalah perbuatan zalim dan dosa yang sangat besar. "Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)
Abdullah bin Mas’ud radliyallah 'anhu berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?” Beliau menjawab, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang musyrik telah berlaku jahat terhadap hak Allah. Padahal Allah-lah sang pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan. Namun, seorang musyrik telah menentang dan mengingkari semua itu, bahkan dia memberikan ibadah dan penghormatan yang hanya menjadi hak Allah kepada selain-Nya yang bukan pencipta, bukan pemberi rezeki, tidak menghidupkan dan mematikan.
Seorang muslim harus takut dan bimbang terhadap perbuatan syirik. Dia harus berhati-hati, jangan sampai terjerumus ke dalam perbuatan yang sangat buruk ini karena samarnya permasalah ini. Yaitu, seperti yang disampaikan Ibnu 'Abbas, bagaikan semut kecil yang merayap di atas batu hitam di malam yang kelam. (Riwayat Ibnu Abi Hatim)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Wahai umat manusia, takutlah kalian terhadap kesyirikan, karena syirik itu lebih samar dari merayapnya semut.” (HR. Ahmad)
"Wahai umat manusia, takutlah kalian terhadap kesyirikan, karena syirik itu lebih samar dari merayapnya semut.
Kerana sulitnya selamat dari perbuatan syirik -kecuali orang yang ditolong Allah untuk menjauhinya- Abu Bakar al Shiddiq mengadu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan menyampaikan, “Wahai Rasulullah, bagaimana kita boleh selamat darinya padahal ia lebih halus daripada semut yang kecil?
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: "Maukah aku ajarkan kepadamu satu kalimat (doa), jika engkau membacanya pasti selamat dari syirik yang samar maupun yang jelas? Ucapkanlah :
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لَا أَعْلَمُ 
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui." (HR. Ahmad, al Thabrani dan lainnya. Dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al Targhib wa al Tarhib. Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa: 2/158, menyebutkannya dari Abi Hatim dalam shahihnya)
Diriwayatkan juga dari Umar bin Khathab radliyallah 'anhu, beliau sering berdoa :
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدِ فِيهِ شَيْئًا
"Ya Allah, jadikan amalku seluruhnya adalah shalih (sesuai tuntunan Rasulullah) dan jadikan ia ikhlash mencari ridla-Mu, jangan jadikan sedikitpun dari amal itu untuk seseorang."
Di samping dengan berlindung kepada Allah dari kesyirikan dengan doa-doa di atas, kita juga harus melakukan usaha nyata dengan menuntut ilmu dan belajar, khususnya tentang tauhid dan syirik. Dengan ilmu tersebut pandangan kita semakin tajam dan jelas, dapat melihat kesyirikan sekecil apa pun. Sebaliknya tanpa ilmu sering manusia terjerumus ke dalam kesyirikan, bahkan syirik besar, dalam keadaan tidak sedar dan merasa dirinya sedang berbuat baik.
Semoga Allah melindungi kita dari kesyirikan, yang besar maupun yang kecil, yang samar maupun yang jelas, sehingga tergolong sebagai hamba Allah mukhlisin. Harapannya, semoga dengan bersih dari syirik amal shalih kita diterima oleh Allah, segala kesalahan dan dosa kita diampuni, Allah masukkan kita ke dalam surga-Nya, dan dijauhkan dari neraka. "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung." (QS. Ali Imran: 185)
Oleh: Badrul Tamam (edit pada ejaan)

Monday, August 30, 2010

Peluang masih terbuka

Infak Sedekah Derma
Sempena bulan ramadan yang tinggal beberapa hari lagi, sementara masih ada peluang marilah kita perbanyakkan  berinfak, menderma dan bersedekah
Sedekah adalah perintah Allah dan Rasul-Nya kepada segenap muslimin. Banyak ayat di dalam Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah yang memerintahkannya dan menyebutkan banyak keutamaan atau faedah sedekah. Dalam surat Al-Baqarah [2]: 261 disebutkan, bahwa barangsiapa menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus butir. Allah melipat gandakan ganjaran bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dari satu butir menjadi 700 butir. Subhanallah.
may13 produksi

Sebagaimana disebutkan dalam satu hadits bahwa sedekah tidak menjadikan hartanya berkurang, tapi justru akan bertambah berkah di mata Allah. Selain itu, sedekah akan menjadikan orang yang bersedekah mendapat naungan Allah pada hari kiamat, dihilangkan kesulitannya, menjadi ubat, pelindung dari api neraka, memadamkan murka Allah dan menjauhkannya dari suul khatimah, mempererat persaudaraan, menambah umur, mengalirkan pahala sekalipun sudah meninggal, menghapuskan dosa, mampu menolak bencana, dan masih banyak lagi faedah sedekah.

Oleh sebab itu, kita sebagai umat Islam semestinya bersedekah setiap hari. Yang kaya menyantuni yang miskin, yang miskin membantu yang kaya dengan tenaganya. Jangan ditunda-tunda lagi hasrat bersedekah dan jangan mengikuti bisikan syaitan yang selalu menggoda orang yang ingin bersedekah. Mereka berbisik, "Jangan berikan hartamu! nanti kamu jadi melarat, kamu jadi miskin. "Tunggu saja setelah Anda kaya, setelah Anda tua, akhirnya Anda meninggal, belum sempat bersedekah, dan menyesal yang tiada gunanya.

Akan tetapi, dalam memberikan sedekah, kita harus ikhlas mencari keredhoan Allah. Janganlah mengharapkan sesuatu dari si penerima, baik berupa balasan, pujian ataupun sanjungan. Jika si pemberi memahami benar amalan sedekah, ia tidak akan menginginkan kedermawanannya diketahui oleh orang lain. Ia juga pastinya menghormati penerima, tidak ada sikap sombong dan riak yang ditunjukkan di hadapan si penerima. Orang yang mahu bersedekah karena keimanannya, yaitu ia percaya akan janji-janji Allah yang ada dalam Al-Qur`an pada hari kiamat nanti, janji-janji Allah itu akan diperlihatkan kepadanya. Barangsiapa beramal kebaikan waktu di dunia dengan landasan keimanan, ia akan memetik hasilnya di akhirat.

Selanjutnya, pada hakikatnya, sedekah tidak hanya dengan kebendaan, tapi juga boleh berupa bantuan tenaga, nasihat, bahkan senyuman yang menenangkan hati. Ini bagian dari keadilan Allah terhadap syariat-Nya. Jadi, sekalipun kita tidak memiliki harta untuk didermakan, kita masih boleh mendapatkan pintu-pintu lain dalam bersedekah dengan keutamaan-keutamaan yang sama dahsyatnya.

Thursday, August 26, 2010

Paderi Melayu di Seremban

PADERI MELAYU dari Singapura - RAZMAN ZAKRI

rupa paderi melayu
Sekarang gerakan kristian  sedang  aktif  DI SEREMBAN ,1900 orang PADERI MELAYU yang baru tiba dari Singapura berada di sini sekarang. 
Mereka menggunakan SIHIR. BERHATI- HATI dengan air mineral jenama :- 
1. AL-BARAMKAH  
2. AL-MANSORI  
3. AL-BISTARIA  
P/S : Sama ada diperolehi secara  PERCUMA  atau dijual murah semua air-air ini telah dicampur  'HOLY WATER' Tolong sebarkan MESSAGE INI kepada umat  ISLAM/ SAHABAT/ SAHABIAH & DLL. 
Sesungguhnya kita tidak termampu memegang senjata untuk menegakkan AGAMA ISLAM akan tetapi kita oleh lakukan  dengan  menghantar mesej ini. Semuga amal   baik ini DIRAHMATI oleh ALLAH SWT.

Wednesday, August 25, 2010

Monday, August 23, 2010

Tazkirah Ramadan

Tazkirah Ramadan Masjid Batu 10
Alhamdulillah malam (13 ramadan)  tadi penulis telah digerakkan untuk mendirikan solat isyak dan tarawih di Masjid Jamiul Hasanat, Batu 10. Suasana nyaman dan sejuk (Air Cond) menyambut kedatangan para tetamu Allah ke Masjid ini. Kedatangan jemaah hampir memenuhi ruang solat dan bilangannya semakin bertambah setelah solat sunat tarawih (8 rakaat). Pentazkirah jemputan pada malam itu seorang personel yang terkenal Ustaz Kamal Asyari.
Ustaz Kamal membawa tajuk puasa ramadan dan menyentuh dari sudut yang sering diabaikan oleh sebahagian umat islam ketika berada di bulan yang penuh dengan maghfiroh ini. Tazkirahnya amat menepati kerana pendengar / jemaah berpeluang untuk membuat pembetulan  pada amalan puasa yang sedang mereka jalani di bulan yang mulia ini
Pertamanya beliau mengucapkan alhamdulillah kerana kita telah ditemukan dengan bulam ramadan yang mulia, ini semua adalah kerana Rahmat Allah kasih sayang Allah kepada hamba-hamba. Kedua kita ditemukan dengan bulan yang awalnya rahmat, pertengahan keampunan dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Persoalannya kenapa Allah letakkan pengampunan di tengah-tengah bulan ramadan? itu semua adalah kasih dan sayang Allah kepada makhluknya. Pintu sentiasa dibuka kepada hamba-hambanya yang mahu bertaubat dan memohon amounanNya.
Amalan bersahur banyak ditinggalkan oleh sebahagian umat islam ketika menjalani ibadat puasa ini mungkin ketiadaan ilmu atau ia hanya anggapan setakat makan dan tak lebih dari itu.  Sebenar bersahurlah yang membezakan puasa orang mukmin berbanding puasa ahlul kitab. Seterunya beliau menjelaskan "Allah dan para malaikatnya berselawat kepada orang yang bersahur". Sahur membawa makna sepertiga malam. Puasa tanpa sahur menyerupai amalan ahlul kitab. Bangunlah saudara walau mengantuk, walau perut masih kenyang sekurang-kurangnya untuk meneguk segelas air untuk mendapatkan selawat dari Allah dan malaikat yang hanya terdapat pada waktu sahur.

Lima Syarat Allah temukan kita dengan Malam Lailatul Qadar
Menurut ustaz Kamal Asyari  beliau telah mengariskan 5 syarat yang perlu ada agar Allah temukan kita dengan malam yang lebih baik dari 83 tahun (1000 bulan)
  1. Tetap dan terus mengerjakan perintah Allah, disamping meninggalkan segala laranganNya. Berpuasa tetapi tidak solat  serupa tidak beriman kepadaNya.
  2. Memperbanyak dan menggandakan amalan-amalan yang hanya terdapat pada bulan ramadan, ini merupakan salah satu cara kita mensyukuri terhadap Rahmat Allah kepada kita.
  3. Banyakkan berdoa semasa kita sedang puasa ambilah kesempatan dan yang inipun hanya terdapat di bulan ramadan. "Allah tidak akan menolak doa orang-orang yang sedang berpuasa". Satu lagi perbanyakkan doa bila menghadap rezeki (makanan)
  4. Tidak membazir : masyarakat sering lupakan yang ini. Berapa banyak pembaziran yang telah kita lakukan selama ini. Pembazir adalah saudara Syaitan. Banyak makanan kita buang gara-gara melayan kehendak (nafsu). Bulan puasa menjadi bulan pesta makan, karnival membeli makanan. Membazir itu  dalam bahasa yang mudah sesuatu yang diguna / beli bukan bukan kerana keperluan. Bertaubatlah dan mohon ampunan diatas segala pembaziran yang telah kita lakukan selama ini. Cuba fikir berapa banyak air yang kita buang semasa mengambil wudhu?
  5. Bersedekah, menderma dan menolong :  maka perbanyakanlah - memang cabarannya  banyak syaitan selalu membisikan ragu-ragu dan kefakiran bila kita berderma, tetapi yakinlah dengan janji Allah setiap harta yang diinfaqkan akan di balas minima 700 kali ganda banyaknya. Akhirnya jika segala syarat telah terpenuhi semoga Allah temukan kita dengan malam Lailatul Qadar - malam yang lebih baik dari 1000 bulan. .. Amin

Sunday, August 22, 2010

Adab Berbuka Puasa

Adab berbuka mengikut Sunnah
Rasulullah SAW telah mengajar umatnya beberapa adab yang perlu diberi perhatian ketika berbuka puasa. Antara adab-adab itu ialah:
1. Membaca doa
Ibn ‘Umar r.a berkata: “Apabila berbuka puasa, Nabi SAW akan membaca : Hilanglah segala kehausan, segala urat-urat telah basah dan semoga tetaplah beroleh pahala.



ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
(Dzahabaz zhoma u wabtallatil ‘uruuqu wa thabatal ajru insyaallah) – Hadis riwayat Abu Dawud

Abdullah Ibn ‘Umar r.a berkata: “Apabila berbuka puasa bacalah: Ya Allah! sesungguhnya aku memohon rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampunkan aku.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي




(Allahumma inni as aluka birahmatikal lati wasi’ta kulla syai in an taghfirali)” – Hadis riwayat Ibn Majah

Di samping doa-doa di atas, kita juga boleh berdoa apa sahaja yang dihajati kerana di antara waktu yang mustajab (makbul) untuk berdoa adalah ketika berbuka puasa. Sabda Rasulullah SAW :
“Sesungguhnya doa yang tidak ditolak bagi orang berpuasa itu ialah ketika dia berbuka.” – Hadis riwayat Ibn Majah
2. Menyegerakan Berbuka Puasa.
Disunnahkan juga kita menyegerakan berbuka puasa. Waktu paling afdal ialah ketika matahari mula terbenam atau dilaungkan azan Maghrib. Utamakan berbuka dari sibuk berzikir, membaca al-Quran atau ibadah lain kerana perintah Nabi s.a.w. Rasulullah SAW bersabda:
“Manusia akan sentiasa berada di dalam kebaikan selagi mereka sentiasa menyegerakan berbuka puasa.” – Hadis riwayat al-Bukhari
Di dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT telah berfirman maksudnya :
“Sebaik-baik hamba-ku menurut pandangan-Ku ialah orang yang menyegerakan berbuka puasa.” – Hadis riwayat al-Tirmizi
3. Berbuka Puasa Dengan Buah Rutab, Tamar Atau Air.
Rutab adalah buah kurma yang masak dan tidak dikeringkan. Ia lembut dan manis. Tamar pula adalah buah kurma yang telah dikeringkan sebagaimana yang banyak terjual di pasaran. Berbuka puasa dengan buah rutab, tamar atau air merupakan sunnah Nabi SAW Anas bin Malik r.a berkata:
“Rasulullah s.a.w berbuka puasa sebelum solat (Maghrib) dengan rutab. Jika tiada rutab, baginda akan berbuka dengan tamar dan jika tiada tamar, baginda akan meneguk beberapa teguk air.” – Hadis riwayat Imam al-Tirmizi
4. Bersegera Mengerjakan Solat Maghrib.
Hadis di atas tidak menafikan bahawa Rasulullah s.a.w juga menyegerakan solat Maghrib setelah berbuka puasa dengan rutab, tamar atau air. Namun, sekiranya makanan malam telah terhidang disunnahkan menjamah makan malam terlebih dahulu walaupun solat telah didirikan. Setelah selesai menikmati hidangan, bersegeralah mengerjakan solatMaghrib. Sabda Rasulullah SAW :
Apabila seseorang dihidangkan makan malam sedangkan solat (jemaah) telah didirikan, utamakan makan malam. Janganlah seseorang itu tergopoh-gapah menghabiskan makanan itu sehinggalah dia selesai dalam keadaan tenang.” – Hadis riwayat al-Bukhari
Menurut Imam al-Nawawi : “Di dalam hadis-hadis tersebut dimakruhkan solat apabila terhidangnya makanan yang hendak dimakan kerana ia boleh mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk.”
5. Berbuka Puasa Secara Sederhana.
Firman Allah SWT :
“Wahai Bani Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah setiap kali kamu ingin ke tempat ibadat (mengerjakan solat) dan makan minumlah serta janganlah kamu melampau. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampaui batas.” – Surah al-A’raaf : Ayat 31
Perlu diingatkan bahawa janganlah waktu berbuka puasa dijadikan medan untuk kita melepas geram kerana sehari suntuk tidak menjamah makanan atau minuman. Sewajarnya, ibadah puasa dijadikan medan untuk melatih jiwa seorang muslim yang bertakwa lagi penyabar direalisasikan ketika berbuka puasa dengan memakan makanan pada kadar yang tidak berlebihan. Sabda Nabi SAW :
“Anak adam itu tidak memenuhi suatu bekas yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak adam itu beberapa suap yang dapat meluruskan tulang belakangnya (memberi kekuatan kepadanya). Sekiranya tidak mustahail (boleh dilakukan), suaplah satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan.” – Hadis riwayat al-Tirmizi
6. Menjamu Makanan Untuk Berbuka Bagi Orang Berpuasa.
Sesungguhnya Islam menganjurkan umatnya mengadakan majlis berbuka puasa untuk menjamu makan bagi mereka yang berpuasa terutamanya kepada orang-orang miskin, anak-anak yatim dan mereka yang ditimpa musibah. Firman Allah SWT :
“Mereka juga memberi makan sebarang makanan yang dihajati dan disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan (sambil berkata dengan lidah atau hati): Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu semata-mata kerana Allah dan kami langsung tidak inginkan sebarang balasan daripada kamu atau ucapan terima kasih.” – Surah al-Insan: 8-9.
Menjamu makan untuk berbuka puasa telah dijanjikan dengan ganjaran pahala yang begitu besar.  Semakin ramai jumlah orang yang dijamu makan, semakin tinggilah jumlah gandaan pahalanya. Sabda baginda SAW : “Sesiapa yang menjamu makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, pahalanya sama seperti pahala orang yang berpuasa, iaitu pahala orang yang berpuasa yang tidak dikurangkan walau sedikit.” – Hadis riwayat al-Tirmizi.
dipetik dari :  Kalam Abu Musaddad

Saturday, August 21, 2010

Hikmah Bersahur

Hikmah Bersahur
Selama menjalani ibadah puasa ramai diantara kalangan kita yang meninggalkan sunaah makan sahur atas berbagai alasan. Pertama mungkin ramai yang tidak mengetahui di dalam bersahur itu terdapat keberkatan, kedua mereka telah makan dulu sebelum tidur (pada anggapan mereka telah bersahur)- jadi tidak perlu bangun untuk bersahur
1. Hikmah Sahur
Allah telah mewajibkan kita semua berpuasa sebagaimana Ia telah mewajibkan kepada orang-orang sebelum kita dari kalangan  Ahlul Kitab, seperti dalam firmanNya: "Hai orang2 yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas oarng2 sebelum kamu, agar kamu bertakwa." [Al Baqarah: 183]
Pada awalnya, hukum puasa adalah sama dengan apa yang ditetapkan bagi Ahlul kitab, yaitu tidak makan, minum, dan berhubungan badan setelah tidur (diwaktu malam). Ertinya jika salah seorang diantara mereka tidur, maka dia tidak makan sampai malam berikutnya.
Dan setelah di nasakh, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam memerintahkan untuk sahur sebagai upaya untuk membedakan antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab.Dari Amr' bin al 'Ash Radhiallahu'anhu, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahlul kitab terletak pada makan sahur." [1]

2. Keutamaan Sahur
Sahur adalah berkah Dari Salman Radhiallahu'anhu, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Berkah itu terdapat pada 3 hal, jama'ah, sayur, dan makan sahur." [2]
Dari Abu Hurairah Radhiallahu'anhu, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah memberikan berkah melalui sahur dan takaran." [3]
Dari 'Abdullah bin Harits, dari seorang sahabat Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam, dia bercerita: "Aku pernah masuk menemui 
Nabi Salallahu'alaihi wa sallam, sedang beliau tengah sahur seraya berucap: 'Sesungguhnya sahur itu berkah yang diberikan oleh Allah kepada kalian, keranannya janganlah kalian meninggalkannya.' " [4]
Rasulullah menyebut sahur sebagai al ghadaa' al mubaarak (makanan penuh berkah), sebagaimana disebutkan dalam dua hadis al 'Irbadh bin Sariyah dan Abu Darda' Radhiallahu'anhumaa: "Mari makan al gadhaa' al mubaarak (makanan penuh berkah) yakni sahur." [5]

Allah dan para malaikatNya berselawat kepada orang  yang makan sahur. Berkah sahur yang paling agung adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melimpahkan ampunan kepada orang-orang yang makan sahur serta menuangkan rahmatNya kepada mereka. Malaikat juga memohonkan ampunan bagi mereka seraya berdoa agar Dia memberikan maaf kepada mereka, agar mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan dari api neraka.
Dari Abu Sa'id Al Kudri Radhiallahu'anhu, Rasulullah Salallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Sahur adalah makanan penuh berkah. Oleh karena itu janganlah kalian meninggalkannya sekalipun salah seorang dari kalian hanya minum seteguk air karena sesungguhnya Allah dan para malaikatNya berselawat kepada orang yang makan sahur." [6]
Sebaik-baik makan sahur bagi orang mukmin adalah kurma, Rasulullah Salallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik makan sahur oarng mukmin adalah kurma." [7]

3. Mengakhirkan waktu sahur
Dari Anas Radhiallahu'anhu, dari Zaid bin Tsabit Radhiallahu'anhu, bahwasannya ia pernah berkata: "Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah Salallahu'alaihi wa sallam. Setelah itu beliau langsung berangkat solat." Kutanyakan: "Berapa lama jarak antara azan dan sahur?", dia menjawab: "Kira-kira sama seperti bacaan 50 ayat." [8]

4. Hukum sahur
Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa hendak berpuasa, maka hendaklah ia makan sahur dengan sesuatu." [9]
Beliau juga bersabda: "Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah." [10]
Rasulullah Salallahu'alaihi wa sallam juga melarang untuk meninggalkannya seperti telah disebutkan pada hadist diatas [6].
Sehingga dapat di rangkum bahwa perintah makan sahur dari Rasulullah Salallahu'alaihi wa sallam ini bersifat penekanan sekaligus anjuran, dilihat dari 3 sisi:
  • Hal tersebut memang diperintahkan
  • Sahur sebagai syi'ar puasa kaum Muslimin sekaligus sebagai pembeza puasa mereka dengan puasa pemeluk agama lain
  • Larangan untuk meninggalkannya
Rujukan:
[1] HR Muslim no. 1096
[2] HR At Tabrani, sanad hadist ini hasan
[3] HR Asy Syirazi, hadist ini hasan
[4] HR An Nasa'i, sanadnya sahih
[5] HR Ahmad, Abu Dawud, dan An Nasa'i, sanadnya shahih
[7] HR Abu Dawud, Ibnu Majah, An Nasa'i, sanadnya sahih
[8] HR Bukhori dan Muslim
[9] HR Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Ya'la, dan Al Bazzar
[10] HR Bukhori dan Muslim

Meneladani Puasa Rasulullah
Oleh: Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

Thursday, August 19, 2010

Simbol Ramadan

Simbol Ramadan
Di dalam menelusuri  liku-liku dan ranjau Ramadan perhatikan  awasi  simbol mudah-mudahan  ianya boleh dijadikan sebagai panduan agar selamat sampai ke penghujung  Ramadan yang serba berkat ini.





Imej ubah suai dari : Ramadhaan highway code



Tuesday, August 17, 2010

Perbanyakkan Doa

Perbanyakkan Doa 
Kita masih berada di 10 awal Ramadan cuba amalkan doa di bawah ini walaupaun agak lambat untuk diterbitkan, mudah-mudahan bermanfaat. Mohonlah sebanyak-banyaknya Rahmat kepadaNya

Secara mudah rahmat Allah  adalah setiap sesuatu perkara positif yang dikehendaki oleh manusia yang tidak melanggar batas agama seperti rahmat sihat, pendengaran, penglihatan, kenyang, tidur, jaga, mempunyai anak, pekerjaan, harta, nikmat kesedapan makanan, gigi, nikmat bersuami isteri, berkasih kasihan, hujan, panas, udara, tumbuhan, harta dan kekayaan.





Sunat Berbuka dengan

Kelebihan Kurma
Kandungan gula di dalam kurma  telah ditukar menjadi Glukosa secara semulajadi, maka apabila kita memakan kurma, tenaga dapat diserap oleh tubuh dengan serta-merta. 

Sebaliknya gula di dalam kebanyakan buah-buahan lain, dikenali sebagai Fraktosa dan Gula Tebu atau Gula Pasir yang biasa mengandungi Sukrosa. Gula jenis ini tidak boleh menyerap terus ke dalam tubuh.Ia terpaksa dipecahkan dahulu oleh enzim sebelum bertukar menjadi Glukosa.Glukosa inilah yang diserap oleh tubuh sebagai tenaga.
Kerana itu kita sangat-sangat disunatkan untuk berbuka dengan kurma. Kurma dapat memberikan tenaga tenaga segera kepada si pemakan. Ini membolehkan kita beribadat dan menunaikan solat maghrib atau tarawih dengan lebih bertenaga walaupun kita telah berpuasa di siang harinya. Adalah sangat digalakkan untuk kita makan buah kurma tanpa buang kulitnya. Ini kerana buah kurma kaya dengan serat. Serat ini melawaskan makanan dan dapat mencegah barah usus.



Kurma diakui sebagai buah berkhasiat dan sebagaimana Firma Allah s.w.t. dalam surah al-Mukminah ayat 19, "Kemudian Kami tumbuhkan kerananya kebun kurma dan anggur untuk kamu. Di sana kamu peroleh buah-buahan yang banyak, dan sebahagiaannya kamu makan."
Diriwayat oleh Aishah r.a. yang menjelaskan, kurma mengandungi ubat. "Jika sesiapa yang selalu makan kurma akan dihindari daripada terkena racun yang dimakan." Dikisahkan sewaktu Mariam melahirkan Nabi Isa a.s. di bawah pohon kurma. Telah datang malaikat Jibrail menyuruh Mariam menggegar pohon kurma lantas dimakannya. Dengan izin Allah, ia memudahkan kelahiran Nabi Isa a.s. 



Monday, August 16, 2010

Amal dan Doa

Di tingkat mana puasa kita

Di tingkat mana puasa kita
Pembaca budiman tanpa disedari 5 hari telah berlalu bulan ramadan yang berkat ini dan hari ini kita berada di 6 ramadan, bagaimana keadaan puasa kita. Semuga Allah menyampaikan kita hingga keakhir ramadan Insyaallah  Cuba imbas kembali puasa kita beberapa hari yang  lepas, apakah kita masih di tahap mendapat lapar dan dahaga sahaja atau ...


Rasanya masih belum terlambat untuk kita membuat koreksi pada kualiti puasa kita tahun ini. Mohonlah pada Zat yang Maha Kuasa agar kita dapat menjaga kualiti puasa kita dan mencapai kessempurnaan puasa, puasa yang bukan hanya meninggalkan dari makan minum, tetapi juga dapat menjaga mata, telinga, lidah seterusnya yang paling susah menjaga (puasa) hati. Akhirnya mohonlah pada Allah agar kita diberikan hijau dan berlindung denganNya dari diletakkan pada kedudukan merah .. Amin

Sunday, August 15, 2010

Doa sepanjang Ramadan




Amalan yang disunatkan Bulan Ramadan

Amalan-amalan yang disunatkan pada bulan Ramadan.
1- Membaca Al-Quran.
Bulan Ramadan adalah bulan al-Quran sesuai dengan sunnah Nabi s.a.w. Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawaanya meningkat di saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawaan Nabi melebihi angin yang berhembus."

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan mengadakan ijtima`/ berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadan. Membaca dan belajar al-Qur'an boleh dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari. Dalam hadist di atas, modarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi pada malam hari, kerana malam tidak terganggu oleh pekerjaan seharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.

Puasa dan al-Quran mempunyai hubungan yang sangat dalam. Kerana itu Rasulullah s.a.w memperbanyak membaca Al-Quran dalam bulan Ramadan. Tidak ada yang melebihi al-Quran. Allah menurunkannya lain pada kitab-kitab terdahulu, di dalamnya terdapat hukum-hukum Allah yang tegas, dari al-Qur'an mengalir petunjuk-petunjuk Allah untuk manusia, tidak ada kedustaan, tidak ada penyesatan, ia memberi syafaat kepada orang yang membaca dan mengamalkannya. Rasulullah menegaskan "Barang siapa mendapatkan syafaat al-Qur'an, maka ia akan mendapatkan syafa'at di hari Kiamat",  "Barangsiapa duduk demi al-Qur'an, maka ia tidak akan berdiri keculai dengan mendapatkan kelebihan dan kekurangan, iaitu kelebihan mendapatkan hidayah dan kekurangan dari kebutaan hatinya". Dengan selalu membaca al-Quran, iman seseorang akan bertambah dan terus bertambah, dan tidak akan luntur apa yang telah ia yakini, hinggga berkuranglah keraguan-keraguan yang ada dalam jiwanya. Tidak ada satu pun penyembuh hati selain al-Quran, kerana sebesar-besarnya penyakit hati adalah kekafiran dan kemunafikan serta jauh dari jalan Allah. Dan tiada penawar atas penyakit-penyakit tersebut kecuali al-Quran.

Alim Rabbany Syaikh Ahmad bin Abdul-Ahmad as-Sarhindy berkata: "Sesungguhnya di dalam bulan ini (puasa) ada kaitan yang sangat erat dengan al-Quran, dimana pada bulan tersebut al-Quran di turunkan, di dalam bulan tersebut juga dipenuhi segala kebajikan dan berkat dari Allah s.w.t. Setiap kebajikan dan keberkatan yang diterima oleh umat manusia selama setahun penuh, tidak lain hanyalah setetes dari lautan rahmat Allah selama satu bulan ini. Maka sangat beruntunglah mereka yang menyambut dan menghidupkan bulan tersebut dengan melakukan amal soleh dan beribadah, dan merugilah mereka yang tidak meramaikan bulan tersebut dengan beribadah, iaitu mereka yang berpaling dari keberkatan dan kebaikan."

Dengan demikian, Ramadan merupakan pesta ibadah, bulan tilawah bagi ummat Islam. Ia ibarat musim menuai orang-orang yang mulia dan bertaqwa, hari raya bagi hamba-hamba yang saleh, diramaikan dengan mendirikan ajaran-ajaran agama, kebeningan hati dalam ibadah dan berlumba-lumba dalam kebaikan. Seluruh umat muslim dari segala penjuru dunia serentak berbondong-bondong menyambut kedatangan bulan suci tersebut dengan menghidupkan suasana yang penuh rahmat dan berkat. Allah telah menganugerahkan rahmat dan pertolongan-Nya kepada hambanya yang beramal saleh, mereka yang tidak segan-segan melaksanakan ajaran-ajaran Allah dan selalu asyik tanpa rasa jemu dalam mengamalkan perintah-Nya. Hati mereka selalu bergantung kepada Allah dan setiap hembusan nafas mereka terarah kepada kebaikan.

2. Menahan hawa nafsu dan kesenangan duniawi.
Iaitu dengan mengurangkan makan ketika berbuka serta tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah hadis dikatakan "Tidak ada perkara yang lebih buruk dari pada memenuhi isi perut dengan makanan secara berlebihan". Ruh puasa terletak pada memperlemah sahwat, mengurangi keinginan dan mengekang nafsu.

Dari Sahal bin Sa'ad  r.a Rasulullah s.a.w. bersabda: " Sesungguhnya di surga ada salah satu pintu yang dinamakan Rayyan: masuk dari pintu tersebut ahli puasa di hari kiamat, tidak ada yang masuk dari pintu itu selain ahli puasa, lalu dipanggil "Manakah para ahli puasa?", maka berdirilah para ahli puasa dan tak ada seorangpun yang masuk dari pintu itu kecuali mereka yang tergolong para ahli puasa, dan apabila mereka sudah masuk, maka pintu sorga tersebut segera ditutup, dan tidak ada satu pun yang diperbolehkan masuk setelah mereka". (Bukhari Muslim).

3. Berdo'a ketika berbuka puasa.
Abu Hurairah r.a berkata: bersabda Rasulullah s.a.w: Ada tiga golongan yang tidak akan ditolak do'anya, mereka itu adalah: orang puasa ketika berbuka, doa pemimpin yang adil dan doa orang yang teraniaya". 
Untuk itu, hendaklah kita semua tidak melupakan saudara-saudara kita yang menderita di Palestin, Afghanistan, Kashmir dan Chechnya dan belahan bumi lainnya dalam doa kita. Betapa banyak do'a yang ihlas dan tulus, lebih berguna berbanding ribuan anak panah.
4. Qiyamullail (Tahajjud )
Solat Tarawih hukumnya sunat menurut kesepakan para ulama juga disunatkan untuk meng-khatamkan al-Qur'an selama solat tarawih. Hadits-hadits yang menerangkan tentang qiyamullail adalah : Sabda Rasulullah s.a.w: "Barang siapa menghidupan malam Ramadan dengan penuh keimanan dan harapan mendapatkan redho Allah s.w.t semata, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau".
Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. senang menghidupkan bulan Ramadan dengan melaksanakan qiyamullail dengan tidak memaksakannya kepada para sahabat untuk melaksanakannya dan bersabda :" Barangsiapa yang melaksanakan Qiyamullail pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan harapan niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau. 

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah mewajibkan atasmu puasa Ramadan dan disunatkan melakukan Qiyamullail pada bulan suci ini, barang siapa berpuasa dan melaksanakan Qiyamullail dengan penuh keimanan dan harapan maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau".
Dari Abu Hurairah r.a: "Kemuliaan seorang mu'min terletak pada solatnya yang  didirikan di tengah malam dan kehormatannya terletak pada ketidak  bergantungann terhadap orang lain". Dari Mughirah r.a, Rasulullah s.a.w selalu bangun tengah malam melaksanakan solat malam hingga bengkak kedua telapak kakinya".

Para ulama salaf selalu mencari kesempatan untuk menghidupkan malamnya dengan solat dan membaca Al-Quran sehingga tersentuh jiwanya. Dan apabila membaca ayat yang menerangkan khabar gembira, hatinya terselip harapan yang menggebu-gebu seolah apa yang di janjikan itu ada di pelupuk matanya. Sebaliknya, apabila membaca ayat Al-Qur'an yang menerangkan ancaman maka hati dan kedua telinganya terasa terbius, seolah dahsyatnya suara api neraka berada di ujung telinganya, lalu mereka pun meletakkan keningnya di atas bumi sambil memohon kepada Allah agar dijauhkan dari pedihnya api neraka dan meminta pertolongan agar diberi kemenangan atas musuh-musuhnya. 

5. Berlumba-lumba dalam bersedekah.
Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir kurma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi: " Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun". (Bukhari Muslim) 

Anjuran untuk berlumba-lumba dalam bersedekah dan membiasakan diri untuk berderma dengan sebanyak-banyaknya  mungkin memberikan apa yang kita punya sesuai dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Abbas yang artinya: " Rasulullah orang yang paling dermawan terlebih ketika berjumpa denga malaikat Jibril dan malaikat Jibril selalu menemuinya setiap malam dibulan Ramadan hingga akhir bulan itu." (HR Bukhari)

Dan pada hadis yang lain disebutkan bahwasanya Rasulullah orang yang paling sempurna akhlaknya, paling dermawan dan kedermawanannya mencakup semua segi, di antaranya memberikan ilmu, harta, dan jiwanya kepada Allah demi menegakkan agama dan memberi petunjuk kepada hamba-Nya, berbakti untuk ummat dalam segala aspek dan semua kedermawanannya semua hanya demi Allah. Rasulullah lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri, keluarga dan anak-anaknya, beliau memberikan apa yang para raja-raja tidak mampu memberikannya, lebih suka hidup sederhana, sehingga tidak jarang dalam sebulan atau dua bulan dapurnya tidak mengepulkan asap. Kedermawanan beliau semakin bertambah ketika masuk bulan Ramadan, kerana keutamaan waktu mengartikan keutamaan beramal di dalamnya, dan menjadikan pahala berlipat ganda di dalamnya. 

Membantu orang berpuasa dan orang yang menjalankan ketaatan, berhak mendapatkan pahala seperti pahala orang yg melakukannya, tanpa mengurangi sedikit pun pahalanya, kerana Allah adalah Maha Dermawan terhadap hamba-Nya dengan rahmat dan maghfiroh-Nya dalam bulan Ramadan ini. Maka sepatutnya bagi seorang hamba harus boleh membalas kebaikan-Nya dengan mendermakan harta dan jiwanya sehingga ia berhak mamperoleh rahmat Allah.

Di antara keutamaan sedekah adalah meredam murka Allah dan terhindar dari suu'ul khatimah, iaitu meninggal dalam keadaan sesat. Sedekah juga mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa untuk menolak bermacam cubaan dan malapetaka, melebur kesalahan, meredamnya sebagaimana air mematikan api, sedekah boleh membuat hati menjadi senang dan dada terasa lapang. Untuk itulah kita dilarang bakhil. Abdurrahman bin Auf setiap kali bertawaf di Makkah selalu berkata: "Ya Allah lindungilah aku dari jiwa yang bakhil."

6. I`tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadan.
I`tikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadan merupakan penyempurna ibadah puasa. Ini kerana I'tikaf artinya menumpukan diri menghadap Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada-Nya. Hingga kecintaannya semata hanya kepada Allah, mengalahkan kecintaannya kepada selain Allah. Inilah tujuan I'tikaf di hari-hari terakhir bulan Ramadan, hari yang paling utama selama bulan tersebut. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadan merupakan keutamaan yang dipilih oleh Allah SWT. 
Diriwayatkan dari `Aisyah r.a. bahwasanya Nabi Muhammad saw selalu beri`tikaf di malam sepuluh terakhir bulan Ramadan hingga ajal menjemputnya, kemudian sunnah ini dihidupkan lagi oleh isteri-isteri Rasulullah selepas kewafatannya" (Bukhari Muslim). Ini merupakan gambaran akan kesungguhan dalam beribadah dan kesediaan Rasulullah dalam menyambut Ramadan.
Dari `Aisyah r.a berkata: bahwa Rasulullah s.a.w. apabila memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, beliau menghidupkan malam dan membangunkan anggota keluarganya dan beliau kencangkan pakaiannya" (Bukhari Muslim).

Saudaraku!
Ingatlah bahwa pintu menuju kebaikan itu bermacam-macam. Oleh kerana itu kita sayugianya memasuki salah satu pintu tersebut. Imam Ahmad Bin Hanbal menegaskan : "Tidaklah dikatakan seorang itu berilmu sebelum ilmunya mencerminkan perkataannya dan ahlaknya". Dan sebagian dari pintu kebaikan adalah berdo`a kerana do`a adalah penggerak dari ibadah dan sebaik-baik do`a dan dzikir adalah yang diajarkan oleh Rasulullah saw kerana beliau adalah hamba yang paling tahu akan Rabb Yang Maha Mengabulkan do`a kita.

7. Menjauhi Larangan Agama:
Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang mu`min adalah menjaga lisan dari mengumpat dalam keadaan berpuasa sebagaimana yang dipesankan Rasulullah s.a.w: "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan ghibah maka tiada artinya di sisi Allah baginya berpuasa dari makan dan minum" (HR: Bukhari). 

Berkata Ibnu Battal: Bukan berarti kemudian ia meninggalkan puasa, tapi ini merupakan peringatan agar meninggalkan perkataan dusta dan ghibah. Adapun makna perkataan Rasul: "Tiada erti di sisi Allah s.w.t." menurut Ibnu Munir adalah: tamsil dari ditolaknya puasa yang bercampur dengan dusta. Adapun puasa yang bersih dari pekerjaan tercela tersebut, insya Allah akan tetap diterima. 
Ibnu Arabi berkata: Umat-umat sebelum kita cara berpuasanya hanya menahan diri dari berkata-kata namun diperbolehkan makan dan minum, begitupun mereka tidak sanggup, sehingga Allah meringankan dengan dihapusnya setengah hari iaitu malam dan dihapusnya setengah puasa iaitu puasa dari berkata, namun mereka tetap tidak sanggup, mereka bahkan melakukan tindakan-tindakan yang diharamkan agama. Kemudian Allah meringankan lagi untuk meningkatkan darjat manusia dengan meninggalkan perkataan dusta dan munkar. Allah pun mewahyukan kepada Rasulullah s.a.w. "Barangsiapa yang berkata dusta atau berbuat munkar maka Allah s.w.t. tidak menerima puasanya dari makanan dan minuman. Maka beruntunglah mereka yang menyibukkan diri dengan aibnya hingga tidak memikirkan aib orang lain dan beruntunglah mereka yang tinggal di rumah, sibuk dengan ibadah kepada Allah, menangisi kesalahannya di saat manusia sedang terlelap tidur.
Selain itu, selayaknya kita tidak ikut campur urusan orang lain sehingga kita terseret dalam kemungkaran atau menjerumuskan orang lain dalam kemungkaran. Kalau ada orang yang mengganggu kita, hendaklah kita ingatkan bahwa kita sedang berpuasa, sebagaimana diajarkan Rasulullah saw: Apabila dihina oleh seseorang hendaklah ia ucapkan saya sedang berpuasa. Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, mulut seorang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibanding minyak wangi misik". 
Maka seorang mu`min yang menguasai syahwatnya dan menahan dirinya dari makanan dan minuman yang halal, menahan dirinya dari menggauli isterinya yang halal, sayugianya ia juga menjaga dirinya dari hal yang jelas diharamkan di luar bulan puasa. Mulut ini, dijadikan Allah swt tidak untuk mengumpat. Mulut yang dijadikan Allah lebih harum dibanding aroma minyak misik, janganlah sengaja dikotori dengan perkataan dusta atau menghina meskipun dalam keadaan terpaksa. Hendaklah ia berkata pada dirinya: "Saya sedang berpuasa dan tidak dihalalkan bagiku berbuat hal tersebut" 

Oleh Kerana Itu saudaraku hendaklah engkau membuat jadual untukmu. Aturlah waktumu dan tetapkan waktu untuk beribadah, jangan sampai engkau kehilangan berkat serta keutamaan Ramadan, sesungguhnya bulan Ramadahan terlalu singkat untuk meraih seluruh keutamaannya, maka persiapkanlah dirimu sekarang untuk menghadapi bulan penuh berkah, rahmah dan maghfirah ini.
Tiada kata yang sesuai untuk mengakhiri tulisan ini, selain firman Allah s.w.t. dalam surat Fatir ayat 32-34: "Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang zalim pada diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang biasa saja dan diantara mereka ada yang lebih banyak berbuat kebaikan. Yang demikian itu adalah kurnia yang amat besar. Bagi mereka surga Adnin yang mereka masuki dengan dihiasi gelang-gelang emas dan mutiara dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan kami, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan penerima Syukur".

KULLU AAM WA ANTUM BI KHAIR
Selamat Menjalani Ibadah Puasa Ramadan

Tuesday, August 10, 2010

Hakikat kesempurnaan Puasa

Hakikat Kesempurnaan Puasa
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah swt yang telah memberikan kesempatan kita untuk bertemu dengan bulan suci Ramadan untuk yang kesekian kalinya. Namun harus kita ketahui bahwa Ramadan yang menemui kita kali ini bukanlah Ramadan yang datang pada tahun-tahun sebelumnya. Bulan Ramadan merupakan bulan yang mempunyai banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh sebelas bulan lainnya. Salah satu keistimewaan bulan Ramadan adalah diwajibkannya puasa di bulan ini bagi orang-orang yang beriman.

Puasa yang secara sederhana dapat kita ertikan “menahan diri”. Iaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Yang dimaksud membatalkan puasa di sini bukan hanya membatalkan ibadahnya secara hukum, akan tetapi  juga mencakup hal-hal yang membatalkan hakekat, tujuan dan membatalkan pahalanya. Kalau puasa dimaknai hanya menahan diri dari yang membatalkan  ibadahnya secara hukum, maka hal ini tidak seberat ketika dimaknai menahan diri segala yang membatalkan hakikat, tujuan dan pahala puasa.

Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum serta memasukkan benda ke dalam salah satu lubang angggota tubuh kita, akan tetapi lebih dari itu, puasa bererti menahan diri dari segala yang membatalkannya secara hukum juga menahan diri dari segala sesuatu yang dibenci oleh Allah baik lahir maupun batin, Nabi Muhammad saw bersabda ”Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar daan dahaga”. Hal inilah yang menunjukkan bahwa hakikat puasa bukan hanya menahan diri dari lapar, dahaga dan bersetubuh. 

Imam al-Ghazali dalam buku yang berjudul Cahaya di Atas Cahaya  menyatakan “Kesempurnaan puasa adalah dengan mencegah segenap anggota badan dari segala hal yang tidak disenangi oleh Allah. Seharusnya kita juga menjaga mata dari melihat hal-hal yang tidak disenangi oleh Allah, menjaga lisan dari mengucapkan hal-hal yang tidak bermakna, menjaga telinga dari mendengarkan, hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala. Orang yang mendengar adalah teman si pembicara, yang kerananya dia juga dikategorikan sebagai orang yang mengumpat. Begitu juga kita harus mengawal seluruh anggota badan sebagaimana engkau menjaga perut dan kemaluan”.

Berkaitan dengan hal di atas banyak sekali hadits Rasulullah yang menerangkan diantaranya: ”Lima hal dapat membatalakan puasa, yaitu berbohong, mengadu domba, bersumpah palsu, dan memandang dengan syahwat.” Nabi juga bersabda”Puasa adalah perisai, maka jika salah seorang dari engkau berpuasa janganlah dia berkata buruk, melakukan maksiat, dan berpura-pura bodoh. Jika ada orang yang mahu membunuh atau mencercanya, maka dia harus mengatakan bahwa aku sedang berpuasa.” Dalam hadits lain Rasulullah bersabda ”Barang siapa tidak meninggalkan kata-klata kotor dan perbuatan keji, maka usahanya meninggalkan makan dan minum tidak berarti bagi Allah.”

Dari hadis-hadis di atas Imam Al- Nawawi dalam kitab Syarah Bidayatul Hidayah Al-Ghazali memberikan kesimpulan bahwa kesempurnaan puasa adalah dengan mencegah segenap anggota badan dari segala hal yang tidak di senangi oleh Allah, iaitu dosa. Itulah puasa orang-orang saleh yang kemudian disebut dengan puasa khusus. Kesempuranaan puasa akan tercapai dengan lima hal. 

  • Pertama, menjaga mata dari melihat hal-hal yang tidak disenangi Allah dan segala hal yang dapat melengahkan diri dari mengingat-Nya. Rasulullah bersabda: ”Pandangan adalah salah satu panah beracun iblis terkutuk”. Barang siapa yang tidak melihat hal-hal tersebut karena takut kepada Allah niscaya Allah akan memberinya keimanan yang manisnya dapat dirasakan dalam hatinya. 
  • Kedua, menjaga lisan dari mengucapkan hal-hal yang tidak bermakna. Hal-hal yang bermakna adalah segala hal yang berkitan dengan keselamatan manusia di akhirat dan keperluan hidupnya yang dapat menyenangkannya dari rasa lapar, menghapus dahaga, menutup aurat dan kepeperluan-keperluan pokok lainnya. 
  • Ketiga, menjaga telinga dari hal-hal yang diharamkan Allah swt. Orang yang mendengar adalah teman si pembicara. Sebab segala hal yang haram diucapkan, juga haram untuk di dengar. 
  • Keempat, berbuka puasa dengan makanan yang halal. Puasa yang berfungsi menahan diri dari barang yang halal tidak akan bermakna bila ditutup dengan berbuka makanan yang haram. Orang yang melakukan hal demikian seperti orang yang membangun sebuah istana kemudian menghancurkannya. 
  • Kelima, ketika berbuka tidak makan terlalu banyak jika kita hanya memindahkan makan kita pada pagi atau siang hari ke malam hari, maka puasa kita tidak bermanfaat. Artinya, di antara etika puasa adalah tidak makan terlalu kenyang, terutama pada waktu berbuka. Hal ini berkaitan dengan sisi pengaruh puasa, yaitu melemahkan (baca; mengendalikan) syahwat yang merupakan tempat berjalannya syaitan di dalam tubuh sejalan dengan aliran darah kita.  Oleh karena itu barang siapa yang berbuka dengan kadar yang berlebihan dihukumkan seperti orang yang tidak berpuasa, karena ia belum mampu mengendalikan sahwatnya untuk makan.
Untuk mendapatkan kesempurnaan puasa kita tidak cukup hanya dengan menjaga anggota badan bagian luar (zahir)  dari hal-hal yang tidak disenangi Allah, kita juga harus menjaga anggota batin, yaitu hati. Maksiat batin juga harus kita nyahkan, karena juga akan merusak kesucian makna puasa. Sumber utama maksiat ini adalah hati. Kita harus membersihkan penyakit-penyakit hati seperti, sombong, ujub, congkak, iri, dengki, riya’ (pamer) dan berbagai penyakit hati lainnya yang dapat mengurangi atau bahkan membatalkan tujuan puasa. Penyakit-penyakit ini nampaknya sangat sederhana, padahal sangat berbahaya karena dapat membakar amal baik kita sebagaimana bara api yang memakan kayu yang sudah kering. Jadi untuk mendapat kesempurnaan puasa marilah kita hindari penyakit-penyakit ini dengan cara dengan mencari sebab-sebab penyaki itu dan menyedari akibat-akibat negatif yang akan ditimbulkanya. Terapinya harus dilakukan dengan latihan terus-menerus untuk membersihkan dan mengembalikan manusia kepada fitrahnya yaitu suci. Karena pada hakekatnya kewajiban kita hanyalah mempertahankan kesucian yang telah dianugerahkan Allah kepada kita sejak kita dilahirkan. Ubat penyakit-penyakit itu tidak dijual di kedai atau doktor praktek. Penyakit-penyakit ini berasal dari dalam diri kita, dan ubatnya pun berada dalam diri kita.

Begitu banyak rintangan yang dihindari oleh orang yang berpuasa agar ia benar-benar sampai tujuan puasa, yaitu membentuk peribadi yang bertaqwa. Taqwa yang secara lughawi (bahasa) mengacu pada pengertian tentang orang-orang yang memeliharanya. Jadi sangatlah wajar jika banyak hal yang harus dijauhi olah orang yang berpuasa, karena sesuai tujuannya iaitu agar menjadi orang yang memelihara dan terpelihara. Terpelihara dirinya, baik dirinya peribadi ataupun lingkungan dari tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan tuntutan dan ajaran agama ataupun terpelihara dirinya dalam kontek sosial, kontek yang lebih luas. 
Namun balasan yang disiapkan Allah bagi orang yang berpuasa lebih besar dan lebih banyak daripada rintangan dan godaan yang dihadapi ketika menjalankannya. Begitu besarnya balasan yang dijanjikan Allah, tiada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits qudsi yang artinya ”Setiap satu kebaikan digandakan sepuluh hingga tuju ratus, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan mengganjarnya sendiri”. Hal ini berarti balasan  yang akan diberikan Allah tidak ditentukan ukurannya.
 Semuga kita dapat menjalankan puasa dengan sempurna agar puasa kita dapat diterima di sisi Allah,  sehingga kita mendapatkan predikat pribadi yang bertaqwa juga mendapatkan redho dan balasan yang telah disiapkan-Nya.
Dipetik dari: Imam Mustofa, Pondok Pesantren Univ. Islam Indonesia

Saturday, August 7, 2010

Sambutlah Ramadan dengan Cinta

Sambutlah Ramadan dengan Cinta 
Demi cintanya pada manusia, Allah SWT dengan rahmatNya akan membuka banyak saluran dan jalan untuk keselamatan hamba-hamba-Nya. Dan, salah satunya adalah menerusi kehadiran Ramadan, bulan di mana Allah SWT membuka selebar-lebarnya pintu cinta-Nya pada manusia.
Allah SWT adalah Zat pemilik cinta. Cinta Allah adalah cinta tak bersyarat; unconditional love. Dia mencintai semua hamba-Nya tanpa mengharap balasan apa pun. Cinta Allah adalah cinta “walaupun”, bukan cinta “kerana”. Allah selalu mencintai  hamba-Nya walaupun hamba itu berbuat zalim dan terus membangkang / menentang perintah-Nya. Sebaliknya, cinta manusia adalah cinta “kerana”. Manusia mencintai sesuatu kerana sesuatu itu ada manfaat bagi dirinya. Manusia beramal, kerana ingin mendapatkan balasan dan kebaikan.
Demi cinta-Nya tersebut, Allah SWT membuka jalan bagi keselamatan dan kebahagian manusia. Salah satunya adalah dengan dikurniakannya Ramadan sebagai bulan istimewa. Maka, tak berlebihan bila Ramadan dikatakan sebagai bulan cinta, bulan di mana Allah SWT membuka pintu-pintu kecintaan-Nya.
“Tanda cinta” dari Allah SWT ini, digambarkan dengan sangat tepat oleh Rasulullah SAW, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu solatmu kerana itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang semua hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Demikianlah, Ramadan adalah bulan di mana Allah SWT memanggil semua hamba-Nya untuk kembali menuju hakikat hidup sebenarnya. Ada perumpamaan menarik dari Jalaluddin Rakhmat, menurutnya, manusia adalah “anak-anak Allah” yang dikeluarkan dari rumah-Nya untuk bermain-main di halaman dunia ini. Dalam QS Al-An’am [6] ayat 32 Allah SWT berfirman, “Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” Kerana itu, Kaabah disebut rumah Allah (Baitullah), kerana ke sanalah para jamaah haji berangkat, meninggalkan segala urusan dunia mereka. Ramadan pun disebut bulan Allah, kerana pada bulan itulah kita pulang, kita meninggalkan halaman permainan kita.
Selama kita asyik bermain, kita sibuk membeli  “barangan” yang bermacam-macam: kekayaan, kekuasaan, kemashuran, atau kesenangan duniawi lainnya. Kita lupa bahawa ada makanan lain yang jauh lebih sihat dan lebih lazat. Pada bulan Ramadan itulah Allah menyeru kita untuk kembali kepada-Nya. Allah telah mempersiapkan jamuan makanan berupa rahmat dan kasih sayang-Nya bagi kita yang “bermain” terlalu jauh dari “rumah”.
Melalui syairnya, Jalaluddin Rumi mengungkapkan: “Bagaimana keadaan sang pencinta?,” tanya seorang lelaki. Aku jawab, ”Jangan bertanya seperti itu, sahabat: Bila engkau seperti aku, tentu engkau akan tahu; Ketika Dia memanggilmu, engkau pun akan memanggil-Nya.” Ramadan adalah bukti cinta Allah. Bahagia bertemu dengan Ramadan sama ertinya dengan bahagia bertemu Allah. Kerana sudah jelas, “Barangsiapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Dan barangsiapa tidak mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun tidak mencintai pertemuan dengannya” (HR Bukhari).
Bila kita mencintai Allah, kita harus menyambut apa pun yang datang dan diserukan-Nya, termasuk Ramadan. Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menyatakan adalah sebuah kebohongan besar bila seseorang mencintai sesuatu tetapi ia tidak memiliki kecintaan kepada sesuatu yang berkaitan dengannya. Al-Ghazali menulis, “Bohonglah orang yang mengaku mencintai Allah SWT tetapi ia tidak mencintai Rasul-Nya; bohonglah orang yang mengaku mencintai Rasul-Nya tetapi ia tidak mencintai kaum fakir dan miskin; dan bohonglah orang yang mengaku mencintai surga tetapi ia tidak mahu menaati Allah SWT.”
Kerana cinta Rasulullah SAW dan para sahabat selalu menyambut Ramadan dengan sukacita. Bahkan sejak Rejab dan Sya’ban mereka telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya, termasuk dengan memperbanyak puasa dan amalan sunnat lainnya. Siti ‘Aisyah berkata, “Tidak pernah Rasulullah SAW berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari puasanya pada bulan Sya’ban, ada kalanya sebulan penuh. Dan adakalanya hampir penuh hanya sedikit yang tidak puasa” (HR Bukhari Muslim).
Tatkala cinta sudah berbicara, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak bahagia menyambut Ramadan. Tidak ada lagi keluh-kesah menahan lapar, haus, dan semua keletihan tatkala menjalani Ramadan. Justeru, lewat cintalah semua yang pahit  akan menjadi manis. Marhaban Yaa Ramadhan!
Dipetik dari : Ahmad Iqbal: Ummahonline